Showing posts with label akuntansi dasar 2. Show all posts
Showing posts with label akuntansi dasar 2. Show all posts
AKTIVA TETAP - BERWUJUD (Tangible Assets) Akuntansi Dasar 2

AKTIVA TETAP - BERWUJUD (Tangible Assets) Akuntansi Dasar 2

aktiva tetap berwujud
contoh aktiva tetap berwujud

Pengertian Aktiva Tetap
Aktiva tetap berwujud adalah aktiva yang memiliki bentuk fisik yang digunakan dalam operasional perusahaan serta mempunyai fungsi yang relatif permanen.

Karakteristik aktiva tetap berwujud:
  • Memiliki bentuk fisik
  • Digunakan secara aktif dalam operasional perusahaan
  • Dimiliki tidak sebagai investasi (penanaman modal) dan tidak diperdagangkan
  • Memiliki jangka waktu kegunaan (umur) relatif permanen (lebih dari satu periode akuntansi/lebih dari satu tahun)
  • Memberikan manfaat dimasa yang akan datang
Contoh aktiva tetap berwujud seperti : tanah, bangunan, mesin dan alat - alat pabrik: mebel dan alat - alat kantor : kendaraan dan alat - alat transport.

Aktiva tetap berwujud dibedakan menjadi 3 golongan :
  1. Aktiva tetap yang berumur atau masa kegunaannya tidak terbatas. Untuk golongan ini jenis manfaatnya tidak akan berkurang didalam kegunaannya selama jangka waktu yang tidak terbatas karena sifatnya yang permanen. contoh : tanah untuk bangunan, pabrik dan kantor, tanah untuk pertanian.
  2. Aktiva tetap yang umur atau masa kegunaanya terbatas dan dapat diganti dengan aktiva sejenis apabila masa kegunaanya telah berakhir. Karena manfaat yang diberikan didalam menjalankan fungsinya semakin berkurang atau terbatas jangka waktunya, maka terhadap harga perolehan aktiva ini harus disusut selama masa kegunaannya. contoh : bangunan, mesin, dan alat - alat pabrik, mebel dan alat - alat kantor, kendaraan dan alat - alat transport.
  3. Aktiva tetap yang umur atau kegunaanya terbatas dan tidak dapat diganti dengan aktiva sejenis apabila masa kegunaanya telah habis. contoh : sumber alam : tambang, hutan. sumber alam akan habis melalui kegiatan exploitasi sumber tersebut oleh karena itu harga perolehan aktiva sumber alam harus dialokasikan kepada periode - periode dimana sumber -sumber itu memberikan hasilnya.
Akuntansi atas aktiva tetap secara umum dibagi atas tiga yaitu :
  • Akuntansi saat perolehan (accounting for acquisition of plant assets)
  • Akuntansi saat penggunaan (accounting for usage of plant assets)
  • Akuntansi saat pelepasan (accounting for disposal of plant assets)
PENENTUAN HARGA PEROLEHAN AKTIVA TETAP
Aktiva tetap harus dicatat sebesar harga perolehannya. Harga perolehan meliputi semua pengeluaran yang diperlukan untuk mendapatkan aktiva dan pengeluaran - pengeluaran lain agar aktiva siap digunakan. Harga perolehan diukur dengan kas yang dibayarkan pada suatu transaksi secara tunai. Jika harga perolehan sudah ditetapkan maka harga perolehan tersebut akan menjadi dasar untuk akuntansi selama masa pemakaian yang bersangkutan. Akuntansi tidak mengakui harga pasar atau harga pengganti.

Penerapan prinsip harga perolehan untuk aktiva tetap :
1. Tanah
     Harga perolehan tanah meliputi.
    a.harga beli tunai tanah
    b.biaya balik nama
    c.komisi perantara
    d.pajak atau pungutan lain yang harus dibayar pembeli

2.Perbaikan Tanah
Harga perolehan perbaikan tanah meliputi semua pengeluaran yang dilakukan sampai perbaikan siap untuk digunakan.

3.Gedung
Bila gedung dimiliki melalui pembeian maka harga perolehannya meliputi :
harga beli,biaya notaris, dan komisi perantara.
Bila gedung dibangun sendiri , harga perolehannya meliputi : semua pengeluaran untuk membuat gedung, termasuk ijin mendirikan bangunan, instalasi listrik dan air.

4.Peralatan
Harga perolehannya terdiri dari : 
harga beli tunai, biaya pengangkutan, dan biaya asuransi selama dalam pengangkutan. Termasuk juga pengeluaran untuk bea balik nama kendaraan.

KONSEP DEPRESIASI AKTIVA TETAP
Depresiasi adalah proses pengalokasian harga perolehan aktiva tetap menjadi biaya selama manfaatnya dengan cara yang rasional dan sistematis.
Depresiasi adalah proses pengalokasian harga perolehan bukan proses penilaian aktiva.

Latar belakang dilakukannya depresiasi adalah karena suatu aktiva untuk menghasilkan pendapatan dan jasa semakin menurun , baik secara fisik dan fungsinya. Pengakuan atas depresiasi aktiva tetap tidak berakibat adanya pengumpulan kas untuk mengganti aktiva lama dengan aktiva baru. Saldo rekening akumulasi depresiasi menggambarkan jumlah depresiasi yang telah dibebankan sebagai biaya, bukan menggambarkan dana yang telah dihimpun.

METODE DEPRESIASI
Depresiasi dicatat dan dilaporkan dengan menggunakan metode - metode berikut:

  1. Garis Lurus (Straight line method)
  2. Saldo menurun (declining balance method)
  3. Jumlah angka-angka tahun (sum of the years digit method)
  4. Satuan kegiatan
Depresiasi periodik didasarkan pada tiga faktor berikut:
  1. Harga perolehan
  2. Nilai residu
  3. Masa Manfaat
Harga perolehan adalah nilai suatu aktiva tetap yaitu harga beli ditambah dengan biaya- biaya yang dikeluarkan sampai aktiva tersebut dapat digunakan atau dipakai untuk kegiatan operasional perusahaan.
Suatu aktiva tetap tidak akan dicatat atau diakui dalam catatan akuntansi perusahaan jika aktiva tersebut belum atau tidak dapat digunakan dalam kegiatan perasional normal perusahaan.
Nilai residu adalah takiran nilai tunai aktiva pada akhir masa manfaat aktiva tersebut.
Masa manfaat adalah jangka waktu pemakaian aktiva yang diharapkan oleh perusahaan.

Metode Garis Lurus (Straight Line)
Dalam metode ini beban depresiasi periodik sepanjang masa pemakaian aktiva adalah sama besarnya.

Rumus 
  1. Nilai Aktiva Tetap (100%) : Masa Manfaat = Tarif Depresiasi (%) Pertahun
  2. Harga perolehan didepresiasi X Tarif Depresiasi (%)  =  Biaya Depresiasi
Harga perolehan didepresiasi adalah harga perolehan dikurangi dengan nilai residu.




PERSEDIAAN (INVENTORY) AKUNTANSI DASAR 2

PERSEDIAAN (INVENTORY) AKUNTANSI DASAR 2

persediaan atau inventory akuntansi
contoh persediaan inventory

Persediaan barang dagangan atau merchandise inventory merupakan barang - barang yang dimiliki perusahaan untuk dijual kembali dalam pelaksanaan normal perusahaan. Biasanya pada perusahaan seperti pabrik terdiri dari persediaan bahan baku, persediaan dalam proses dan persediaan barang jadi.

Dasar - dasar persediaan
  • Neraca dalam perusahaan manufaktur dan dagang menggambarkan aktiva lancar yang jumlahnya sangat besar.
  • Laporan rugi laba, persediaan merupakan hal yang sangat menetukan keuntungan atau hasil usaha.
  • Pendapatan kotor,(penjualan bersih dikurangi harga pokok penjualan) diawasi oleh manajemen perusahaan, pemilik maupun pihak - pihak lain.
Karakteristik Persediaan Barang Dagangan :
  1. Persediaan Barang Dagangan dimiliki oleh perusahaan
  2. Dalam bentuk siap untuk dijual.
Pengelompokkan Persidaan dalam Lingkungan Pabrikan (manufacturing)
  1. Persediaan pabrikan mungkin bukan merupakan persediaan yang siap jual.
  2. Diklasifikan dalam tiga kategori :
  • Barang jadi, siap jual kepada konsumen
  • Sedang dalam proses produksi, beberapa tahap produksi (belum selesei)
  • Bahan baku atau mentah, komponen atau bahan yang siap untuk digunakan dalam proses produksi.
Penentuan Kuantitas Persediaan
Dalam mempersiapkan laporan keuangan perlu ditentukan :
  1. Jumlah unit dalam persediaan dengan cara menghitung, menimbang atau mengukur jumlah barang persediaan secara fisik yang ada di perusahaan.
  2. Kepemilikan barang.
Pengelolaan Fisik Persediaan
yang terdiri dari prinsip - prinsip pengendalian intern untuk persediaan meliputi :
  1. Pemisahan tugas, penghitungan persediaan dilakukan oleh karyawan yang bukan bertugas mengawasi persediaan.
  2. Penyelengaraan pertanggungjawaban, masing - masing bagian dalam pengelolaan persediaan wajib menggunakan otorisasi yang otentik.
  3. Verifikasi intern yang independen, penghitungan ulang persediaan oleh petugas yang lain dan dilakukan penandaan terhadap item barang persediaan penandaan hanya dilakukan sekali.
  4. Prosedur pendokumentasian, menggunakan penandaan barang dengan dokumen yang sudah dinomori sebelumnya (prenumbered)
Kepemilikan Persediaan dalam Perjalanan 
  1. Persediaan barang dalam perjalanan, meliputi pihak yang berhak menerima persediaan
  2. FOB (Free on Board), shipping point. Kepemilikan barang menjadi milik pembeli pada saat diserahkan penjual kepada penyelenggara transportasi atau pihak perusahaan pengiriman barang yang independen.
  3. FOB (Free on Board) destination point. Kepemilikan barang masih berada di penjual sampai barang tersebut diterima oleh pembeli.
Barang Konsinyasi
yang dimaksud dengan Konsinyasi adalah pemegang atau penjual barang (consignee) bukan merupakan pemilik barang.
Karakteristiknya :
  1. Kepemilikannya tetap berada ditangan pemilik barang (consignor) sampai barang tersebut terjual.
  2. Barang konsinyasi merupakan persediaan barang dagangan milik consignor, bukan persediaan milik consignee.
Sistem Akuntasnsi Persediaan
  1. Perpetual (perpetual inventory system) sistem pencatatan perpetual selalu membuat catatan setiap terjadinya mutasi persediaan (pembelian, penjualan,ataupun retur)
  2. Periodik (periodic inventory system) pada akhir periode akuntansi dengan menggunakan sistem pencatatan periodik harus melakukan pengecekan fisik terhadap persediaan (stock opname of inventories) dengan cara mengukur dan menghitung berapa jumlah barang yang ada digudang. Sistem pencatatan ini pada akhir periode dibutuhkan ayat jurnal penyesuaian sebagai berikut:
Ikhtisar Rugi Laba (income summary)                             xxx
                  Persediaan (inventories)                                                              xxx
Untuk persediaan akhir :
Persediaan (inventories)                                                   xxx
                  Ikhtisar Rugi Laba (income summary)                                       xxx

PENILAIAN PERSEDIAAN
  1. Penilaian dengan pendekatan arus harga pokok (cost basic flow approach) dalam pendekatan ini terdapat dua sistem pencatatan persediaan yaitu sistem periodik dan sistem perpetual yang masing - masing ada tiga cara penilaian persediaan yaitu :
  • FIFO (First in First Out) masuk pertama keluar pertama yaitu metode ini menyatakan bahwa persediaan dengan nilai perolehan awal masuk akan dijual terlebih dahulu, sehingga persediaan akhir dinilai dengan nilai perolehan persediaan yang terakhir masuk (dibeli). metode ini cenderung menghasilkan persediaan yang nilainya tinggi dan berdampak pada nilai aktiva perusahaan yang dibeli.
  • LIFO (Last In First Out),masuk terakhir keluar pertama yaitu metode ini menyatakan bahwa persediaan dengan nilai perolehan terakhir masuk akan dijual terlebih dahulu, sehingga persediaan akhir dinilai dan dilaporkan berdasarkan nilai perolehan persediaan yang awal masuk atau dibeli. Metode ini cenderung menghasilkan nilai persediaan akhir yang rendah dan berdampak pada nilai aktiva perusahaan yang rendah.
  • Metode Rata-rata (Average Method) Dengan metode ini nilai persediaan akhir akan menghasilkan nilai antara nilai persediaan metode FIFO dan nilai persediaan LIFO. Metode ini juga akan berdampak pada nilai harga pokok penjualan dan laba kotor.
2.Penilaian Persediaan Selain Arus Harga Pokok
Dalam pendekatan ini ada tiga metode yang digunakan yaitu:
  • Lower Cost Of Market adalah metode harga terendah antara harga pokok dan harga pasar. Metode ini dapat diterapkan dalam kondisi persediaan tidak normal, misalnya cacat, rusak dan kadaluarsa. Inti dari metode ini adalah membandingkan nilai yang lebih rendah antara nilai pasar (Replacement value) dan nilai perolehan (cost). Nilai pasar yang akan dipilih harus dibatasi, yaitu tidak boleh lebih rendah dari batas bawah (floor limit) dan tidak blogeh lebih tinggi dari batas atas (celling limit).
  • Gross Profit Method adalah metode laba kotor yang bersifat estimasi dalam penilaian persediaanya. Biasanya diterapkan karena keterbatasan dokumen yang terkait dengan persediaan, misal karena terjadi bencana kebakaran dan banjir. Dasar penilaian persediaanya adalah pada persentase laba kotor perusahaan tahun berjalan atau rata - rata selama beberapa tahun. 
Cara melakukannya yaitu :
  1. Mengestimasi nilai penjualan tahun berjalan,
  2. Menghitung nilai harga pokok penjualan berdasarkan pada persentase laba kotor yang diketahui dan
  3. Menghitung estimasi nilai persediaan akhir dengan mengurangi harga pokok penjualan terhadap penjualan.
  • Retail Method atau metode eceran ini yaitu menilai persediaan akhir dengan cara menghitung terlebih dahulu nilai persediaan akhir berdasarkan eceran. Nilai persediaan akhir dengan harga pokok akan diketahui dengan cara menghitung rasio antara nilai persediaan yang tersedia untuk dijual dengan pendekatan harga pokok dibandingkan dengan pendekatan ritel. Kemudian rasio yang diperoleh dikalikan dengan persediaan akhir yang dinilai dengan pendekatan eceran dengan rumusan seperti berikut : 
Persediaan akhir menurut harga pokok = Barang sedia dijual menurut harga pokok / barang sedia dijual menurut harga eceran   X   Persediaan Akhir menurut eceran

PIUTANG - PIUTANG WESEL (Notes Receivable)

PIUTANG - PIUTANG WESEL (Notes Receivable)


Pengertian Piutang Wesel
Piutang Wesel adalah janji tertulis yang tidak bersyarat dari satu pihak ke pihak lain untuk membayar sejumlah uang pada tanggal tertentu dimasa yang akan datang.
Definisi lain piutang wesel merupakan perintah membayar dan janji membayar sejumalh uang tertentu. Piutang Wesel ini yang dinamakan surat aksep atau surat sanggup dalam dunia bisnis piutang wesel juga bisa disebut sebagai wesel tagih ,promes,aksep dan promisionary atau notes receivable.


Piutang wesel dapat dipisahkan menjadi :
  • Piutang wesel tidak berbunga (non interest bearing) yaitu piutang wesel yang mempunyai nilai jatuh tempo sebesar nilai nominal.
  • Piutang wesel berbunga (interest bearing) yaitu piutang wesel yang nilai jatuh temponya sebesar nominal ditambah dengan bunga.

Piutang wesel dapat dipindahtangankan dan ada yang tidak dapat dipindahtangankan jika wesel dapat dipindahtangankan artinya adalah yang membuat wesel akan membayar pada orang (badan) yang memegang wesel tersebut pada saat jatuh tempo wesel yang dapat dipindahtangankan dapat didiskontokan ke bank sebelum jatuh temponya.

Piutang wesel biasanya timbul karena 
  • Terjadinya transaksi penjualan secara kredit
  • Pemberian pinjaman uang
  • Perubahan piutang dagang menjadi piutang wesel
Penilaian Piutang Wesel

Piutang - Piutang Dagang (Account Receivable ) Akuntandi Dasar 2

Piutang - Piutang Dagang (Account Receivable ) Akuntandi Dasar 2

Penjualan Kredit
Penjualan barang atau jasa adalah merupakan sumber pendapatan perusahaan. Dalam melaksanakan penjalan kepada para konsumen, perusahaan dapat melakukannya secara tunai atau secara kredit.
Perusahaan lebih menyukai transaksi penjualan secara tunai karena perusahaan akan segera menerima kas yang akan dapat digunakan kembali untuk mendatangkan pendapatan selanjutnya.
Dari sisi konsumen umumnya lebih menyukai bila perusahaan dapat melakukan penjualan secara kredit , karena pembayaran dapat ditunda. Penjualan kredit menimbulkan adanya piutang atau tagihan.

Pengertian Tagihan
Tagihan dalam arti yang luas meliputi segala macam tuntutan (klaim) kepada pihak ketiga yang pada umumnya akan berakibat adanya penerimaan kas di masa yang akan atau dengan kata lain tagihan merupakan hak untuk menagih sejumlah uang dari si penjual ke pembeli yang timbul dari adanya suatu transaksi.

Klasifikasi tagihan
Tagihan - tagihan yang dimiliki perusahaan dapat dibagi dua kelompok :

  1. Tagihan - tagihan yang tidak didukung janji - janji tertulis disebut piutang (account receivable).
  2. Tagihan - tagihan yang didukung dengan janji - janji tertulis disebut piutang wesel (notes receivable).
Piutang , menurut sumber atau asal terjadinya dapat dibedakan menjadi :
  1. Piutang Dagan yaitu tagihan - tagihan yang timbul dari transaksi penjualan barang atau jasa.
  2. Piutang Bukan Dagang yaitu tagihan - tagihan yang timbul dari transaksi selain penjualan barang atau jasa.
  3. Piutang Pendapatan yaitu pendapatan yang sudah terjadi tetapi belum diterima (accrued receivable).
Contoh Pengakuan Piutang Dagang
Misalnya pada tanggal 1 Januari 1999 PT. VIVAS menjual barang kepada PT. SAVIO seharga Rp. 1.000.000 dengan termin 2/10,n/30. Pada tanggal 5 januari barang senilai Rp.100.000 dikembalikan oleh PT.SAVIO kepada PT.VIVAS Tanggal 11 januari PT.VIVAS menerima pembayaran dari PT.SAVIO sebesar saldo tagihannya.

Jurnal untuk mencatat transaksi-transaksi diatas dalam pembukuan PT.VIVAS adalah sebagai berikut :

Jan 1  Piutang Dagang.........................................Rp.1.000.000
                 Penjualan.........................................................................Rp.1.000.000
          (Penjualan kredit kepada PT.SAVIO)
Jan 5  Retur dan Potongan Penjualan...................Rp.100.000
                 Piutang Dagang............................................................... Rp.   100.000
          (Pengembalian barang dari PT.SAVIO)
Jan 11 Kas..........................................................Rp.882.000
           Potongan tunai penjualan...........................Rp. 18.000
                 Piutang Dagang................................................................Rp.   900.000
Penilaian Piutang Dagan
Menurut Prinsip Akuntansi Indonesia
Piutang dagang harus dicatat dan dilaporkan sebesar nilai kas (netio) yang bisa direalisasikan yaitu jumlah kas bersih yang diperkirakan dapat diterima
Kerugian Piutang

Penjualan secara kredit akan menguntungkan perusahaan karena menarik bagi calon pembeli sehingga volume penjualan meningkat disisi lain penjualan kredit sering juga mendatangi keruigan ketika debitur tidak mampu atau tidak mau membayar kewajibannya.

Kerugian Piutang
Dalam akuntansi, kerugian ini biasa disebut dengan kerugian piutang, biaya piutang tak tertagih, dan biaa piutang ragu - ragu.

Pencatatan kerugian piutang dapat dilakukan dengan dua metode :
  1. Metode Cadangan
  2. Metode Penghapusan Langsung
Metode Cadangan (allowance)

Dalam metode ini yang perlu diperhatikan adalah :
  • Kerugian piutang tak dapat tertagih ditentukan jumlahnya melalui taksiran dan dibandingkan (matched) dengan penjualan pada periode akuntansi yang sama dengan periode terjadinya penjualan.
  • Jumlah piutang yang ditaksir tidak akan dapat diterima, diatat dengan mendebet Rekening Kerugian Piutang dan mengkredit Rekening Cadangan Kerugian Piutang.
  • Kerugian piutang yang sesungguhnya terjadi dicatat dengan mendebet Rekening Cadangan Kerugian Piutang dan mengkredit Rekening Piutang Dagang pada saat dihapus dari pembukuan.


REKONSILIASI BANK AKUNTANSI DASAR 2

REKONSILIASI BANK AKUNTANSI DASAR 2


Apabila setiap penerimaan uang disetor ke bank dan setiap pengeluaran uang  (kecuali yang jumlahnya relatif kecil) menggunakan cek maka rekening kas akan dapat dibandingkan dengan laporan bank. Rekonsiliasi laporan bank berguna untuk mengecek ketelitian pencatatan dalam rekening kas dan catatan bank, selain itu untuk mengetahui penerimaan atau pengeluaran yang belum dicatat oleh perusahaan. Dalam membuat rekonsiliasi laporan bank perlu diketahui bahwa yang direkonsiliasikan adalah catatan perusahaan dan bank, sehingga harus dibuat perbandingan antara keduanya agar dapat diketahui perbedaan - perbedaan yang ada.
     Perbandingan ini dilakukan dengan cara debit rekening kas dibandingkan dengan kredit catatan bank yang bisa dilihat laporan bank kolom penerimaan, dan kredit rekening kas dibandingkan dengan debit catatan bank yang bisa dilihat dari laporan bank kolom pengeluaran.
 Biasanya laporan bank diterima bulanan dan akan direkonsiliasikan dengan catatan kas.

Perbedaan Saldo Menurut Catatan Kas Dengan Saldo Menurut Laporan Bank :
1.Elemen - elemen perusahaan yang sudah dicatat sebagai penerimaan uang tetapi belum dicatat oleh bank.
Contoh :
  • Setoran yang dikirimkan ke bank pada akhir bulan tetapi belum diterima oleh bank sampai bulan berikutnya (setoran dalam perjalanan / deposit in transit).
  • Setoran yang diterima oleh bank pada akhir bulan, tetapi dilaporkan sebagai setoran bulan berikutnya, karena laporan bank sudah terlanjur dibuat (setoran dalam perjalanan / deposit in transit).
  • Uang tunai yang tidak disetorkan ke bank (Cash On Hand).
  • Non Sufficient Check (NSC) yaitu cek yang tidak cukup dananya untuk diuangkan.
2. Elemen - elemen yang sudah dicatat sebagai penerimaan oleh bank tetapi belum dicatat oleh perusahaan.

Contoh :

  • Bunga yang diperhitungkan oleh bank terhadap simpanan, tetapi belum dicatat dalam buku perusahaan (Jasa Giro)
  • Penagihan wesel oleh bank, sudah dicatat oleh bank sebagai penerimaan tetapi perusahaan belum mencatatnya. 
3.Elemen - elemen yang sudah dicatat oleh perusahaan sebagai pengeluaran tetapi bank mencatatnya sebagai pengeluaran.

Contoh :
  • Cek - cek yang beredar (outstanding cheque) yaitu cek yang sudah dikeluarkan oleh perusahaan dan sudah dicatat sebagai pengeluaran kas tetapi oleh yang menerima belum diuangkan ke bank sehingga bank belum mencatatnya sebagai pengeluaran.
  • Cek yang sudah ditulis dan sudah dicatat dalam jurnal pengeluaran uang tetapi ceknya belum diserahkan kepada yang dibayar maka cek tersebut belum merupakan pengeluaran, oleh karena itu jurnal pengeluaran kas harus dikoreksi pada akhir periode (cheque on hand).
4.Elemen - elemen yang sudah dicatat oleh bank sebagai pengeluaran tetapi belum dicatat oleh perusahaan.

Contoh :
  • Cek dari langganan yang ditolak oleh bank karena kosong tetapi belum dicatat oleh perusahaan.
  • Bunga yang diperhitungkan atas overdraft (saldo kredit kas) tetapi belum dicatat oleh perusahaan.
  • Biaya jasa bank belum dicatat oleh perusahaan.
Selain keempat diatas, perbedaan antara saldo kas dengan saldo kas menurut laporan bank dapat terjadi akibat kesalahan - kesalahan yang terjadi dalam catatan perusahaan maupun catatan bank. untuk itu dapat membuat rekonsiliasi laporan bank agar kesalahan - kesalahan yang ada harus dikoreksi.

Rekonsiliasi Bank Dapat Dibedakan Menjadi 2 Macam Cara Yang Berbeda :
1.Rekonsiliasi Saldo Akhir, yang dapat dibuat dalam 2 bentu :
  • Laporan Rekonsiliasi Saldo Bank dan Saldo Kas untuk menunjukan saldo yang benar.
  • Laporan Rekonsiliasi Saldo Bank kepada saldo kas.
2.Rekonsiliasi Saldo Awal, penerimaan, pengeluaran, dan saldo akhir, yang bisa dibuat dalam 2 bentuk :
  • Laporan rekonsiliasi saldo bank kepada saldo kas (4 kolom).
  • Laporan rekonsiliasi saldo bank dan saldo kas untuk menunjukkan saldo yang benar (8 kolom).
Contoh Pengerjaan Laporan Rekonsiliasi Bank

Saldo rekening Bank ALAMO di Buku Besar PT. SANDROS pada tanggal 31 Juli 2006 menunjukkan jumlah Rp.185.500. Saldo menurut rekening koran pada tanggal tesebut adalah Rp.207.000. Setelah dilakukan pemeriksaan, perbedaan itu disebabkan oleh hal - hal berikut :
  • Biaya administrasi bank untuk bulan Juli 2006 sebesar Rp. 2.800 yang muncul di rekening koran belum dicatat oleh perusahaan oleh karena nota debitnya belum sampai.
  • Lima lembar cek berjumlah Rp. 40.750 yang telah dibayarkan kepada para pemasok (supplier) untuk melunasi utang ternyata masih belum diuangkan.
  • Cek yang ditarik oleh PT. SANDRA sebesar Rp.15.000 telah salah dibukukan oleh bank ke dalam rekening PT. SANDROS.
  • Kiriman uang darilangganan melalui transfer bank sebesar Rp.3.950 untuk pelunasan utangnya belum dicatat dalam pembukuan perusahaan.
  • Cek nomor SR 5220 sebesar RP.70.550 dicatat dalam pembukuan PT.SANDROS dengan jumlah Rp.65.150
Diminta :
  1. Buatlah Rekonsiliasi bank untuk PT.SANDROS pada tanggal 31 Juli 2006 
  2. Buatlah jurnal penyesuaian yang diperlukan.
Jawabannya 
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
PT.SANDROS
Laporan Rekonsiliasi Bank
31 Juli 2006
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Saldo menurut Bank                                                                                         Rp.207.000,-
Ditambah :
-Koreksi kesalahan Bank                      Rp.  15.000,-                                          Rp.  15.000,-
                                                                                                                             Rp.222.000,-

Dikurangi :
-Cek yang masih beredar                      Rp.   40.750,-                                         (Rp. 40.750,-)
Saldo yang benar                                                                                                Rp.185.500


Saldo menurut Perusahaan                                                                               Rp.185.500,-
Ditambah :
-Kiriman uang                                      Rp.     3.950,-                                         Rp.    3.950,-
                                                                                                                             Rp.189.450

Dikurangi :
-Beban administrasi bank                     Rp.     2.800,-
-Koreksi kesalahan cek                         Rp.     5.400,-
                                                             Rp.      8.200                                          (Rp.    8.200,-)
Saldo yang benar                                                                                              Rp. 181.250,-



--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Ayat Jurnal penyesuaian yang dibuat

Tanggal      Perkiraan                                                              Debet                           Kredit
31-07-06    Kas di Bank                                                          3.950
                                     Piutang Dagang                                                                      3.950
31-07-06    Beban administrasi bank                                      2.800 
                                     Kas di Bank                                                                            2.800
31-07-06    Piutang Dagang                                                    5.400
                                     Kas di Bank                                                                            5.400